Nilai Ajaran

Di tengah derasnya arus informasi, naskah kuno sering dianggap benda museum: berdebu, sulit dibaca, dan jauh dari urusan hari ini. Padahal di dalam lembaran-lembaran tua itu tersimpan percakapan panjang tentang pertanyaan yang tak pernah usang. Bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap? Bagaimana manusia menata hubungannya dengan Tuhan, sesama, dan alam? Salah satu naskah yang menjawab pertanyaan itu adalah Serat Nitisruti.

Mengenal Serat Nitisruti

Dalam tradisi Jawa, naskah tulisan tangan atau salinannya disebut serat. Sebagian besar isi serat berupa piwulang atau ajaran, sehingga para peneliti menggolongkannya sebagai sastra didaktik, yakni karya sastra yang sengaja ditulis untuk mendidik. Serat Nitisruti termasuk golongan ini. Naskah ini digubah oleh Pangeran Karanggayam, pujangga dari masa Kasultanan Pajang. Menurut sebuah kajian, naskah ini ditulis pada 1591 M, meski sebagian peneliti lain menempatkannya pada masa awal Mataram. Perbedaan penanggalan seperti ini lazim dalam filologi, ilmu yang menelaah naskah kuno, karena banyak naskah sampai kepada kita lewat salinan.

Seperti banyak karya sastra Jawa klasik, Nitisruti disusun dalam bentuk tembang, yaitu puisi bermetrum yang dilagukan. Pilihan bentuk ini bukan kebetulan. Pesan moral yang dilantunkan lebih mudah diingat, lebih enak didengar, dan lebih mudah diwariskan lintas generasi. Nitisruti juga bersaudara dengan karya “niti” lain, misalnya Serat Nitipraja, yang ajarannya ditujukan kepada raja, bupati, dan para pembesar kerajaan. Kata niti sendiri dapat dipahami sebagai tuntunan tentang tata laku dan kebijaksanaan.

Lahir dari Zaman yang Bergolak

Serat ini tidak lahir di ruang hampa. Pada abad ke-16, Pajang berada di persimpangan budaya. Sebagian kelompok Islam ingin menegakkan syariat secara tegas, sementara kelompok lain tetap memegang tradisi Jawa yang sudah berakar, termasuk warisan Hindu. Ketegangan semacam ini berpotensi memicu konflik sosial. Dalam situasi itulah Nitisruti hadir. Sebuah kajian menyimpulkan bahwa naskah ini memuat tema Islam yang inklusif: keterbukaan spiritual, etika pendidikan, politik, tradisi, dan kehidupan bermasyarakat.

Ciri khas ini terlihat pada ramuan filosofinya. Para peneliti mencatat bahwa ajaran Nitisruti banyak bersumber dari filsafat Islam, tetapi berpadu dengan unsur filsafat Jawa dan Hindu. Alih-alih mempertentangkan, serat ini merajut. Pesannya kira-kira begini: iman dan budaya tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa saling menyuburkan selama tujuannya sama, yaitu menjadi manusia yang berbudi luhur.

Tiga Lapis Ajaran Moral

Jika diurai, piwulang dalam Nitisruti dapat dibaca dalam tiga lapis. Pertama, moral pribadi: bagaimana seseorang menjaga diri, mengendalikan watak, dan membentuk karakter. Kedua, moral sosial: bagaimana kita berlaku adil, santun, dan bertanggung jawab dalam hubungan dengan sesama. Ketiga, moral agama: bagaimana manusia menempatkan dirinya di hadapan Tuhan.

Kajian lain merumuskannya sedikit berbeda namun sejalan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam serta makhluk lain. Artinya, etika dalam Nitisruti tidak berhenti pada urusan ibadah atau sopan santun. Ia membentang dari batin pribadi hingga kelestarian lingkungan. Pandangan seperti ini terdengar sangat modern, bahkan mendekati gagasan keberlanjutan yang kini ramai dibicarakan.

Kepemimpinan: Berkaca pada Alam

Ajaran yang paling menarik perhatian adalah soal kepemimpinan. Nitisruti memuat konsep Asthabrata, yaitu delapan laku seorang pemimpin yang dalam tradisi Jawa dimaknai sebagai keteladanan pada watak unsur-unsur alam. Pemimpin diibaratkan seperti alam: memberi tanpa pamrih, tegas tetapi tidak sewenang-wenang, dan hadir menaungi semua pihak tanpa memilih-milih.

Serat ini juga mengaitkan hubungan pemimpin dan rakyat dengan gagasan kesatuan Gusti dan kawula. Pemimpin bukan sosok yang berdiri jauh di atas rakyat, melainkan bagian dari satu kesatuan yang saling bergantung. Kekuasaan dipahami sebagai amanah, bukan sekadar hak istimewa. Pemimpin yang baik adalah yang batinnya matang sebelum ia mengatur orang lain.

Apakah Masih Relevan?

Nitisruti pernah populer pada awal abad ke-19 dan memengaruhi cara pandang sebagian masyarakat Jawa. Dua abad kemudian, para peneliti masih menemukan relevansinya. Penelitian di bidang etika menunjukkan bahwa ajaran moral Nitisruti pada umumnya selaras dengan nilai-nilai Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Penelitian di bidang pendidikan juga melihat ajaran kepemimpinannya relevan dengan pendidikan Islam, terutama dalam pembentukan karakter dan keteladanan.

Bagi kita hari ini, setidaknya ada tiga pelajaran penting. Pertama, keteladanan lebih kuat daripada perintah. Di era ketika krisis kepercayaan terhadap pemimpin kerap terjadi, pesan tentang pemimpin yang berbudi menjadi sangat aktual. Kedua, keberagaman dapat dikelola dengan kearifan. Cara Nitisruti menengahi tarik-menarik antara syariat dan tradisi bisa menjadi inspirasi dalam merawat toleransi. Ketiga, etika perlu dimulai dari diri sendiri sebelum menjalar ke masyarakat dan lingkungan.

Serat Nitisruti mengingatkan kita bahwa warisan leluhur bukan sekadar nostalgia, melainkan peta moral yang bisa dipakai untuk menavigasi zaman. Tentu, ia perlu dibaca dengan kritis dan kontekstual, sebab lahir dari dunia istana abad ke-16. Namun, di balik bahasanya yang klasik, tersimpan gagasan yang terasa dekat: pemimpin yang rendah hati, agama yang merangkul, dan manusia yang menjaga alam. Mungkin tantangan kita bukan kekurangan kearifan, melainkan kemauan untuk membaca ulang apa yang sudah diwariskan.

Rujukan

  • Riyadi, M. I., & Muzakki, M. H. (2020). Menggagas Islam Inklusif Budaya Jawa dalam Serat Nitisruti Zaman Kasultanan Pajang (Abad 16 M). Lektur Keagamaan, 18(1), 85-108.
  • Jurnal Muslim Heritage (IAIN Ponorogo). Ajaran Kepemimpinan Jawa dalam Serat Nitisruti dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam.
  • Utami, J. A. Piwulang Sajrone Serat Nitisruti (Tintingan Sosiologi Sastra). Universitas Negeri Surabaya.
  • Serat Nitisruti dalam Perspektif Etika dan Relevansinya dengan Nilai-nilai Pancasila. Repositori Universitas Gadjah Mada.
  • Wulandari, A. (2003). Gaya Bahasa Perbandingan dalam Serat Nitipraja. Humaniora, 15(3).
What's your reaction?
1Like0Love1Happy0Sad2Dislike

Leave a comment

Butuh Bantuan? Chat dengan kami