Serat Nitisruti merupakan salah satu karya sastra Jawa yang memuat ajaran moral, spiritual, pendidikan, dan kepemimpinan. Naskah ini dikenal sebagai salah satu warisan intelektual penting dari lingkungan Keraton Pajang.
Serat Nitisruti ditulis oleh Pangeran Karanggayam, seorang pujangga yang hidup di lingkungan Keraton Pajang. Naskah tersebut diperkirakan disusun pada tahun 999 Hijriah atau sekitar 1591 Masehi.
Keberadaan Serat Nitisruti menunjukkan bahwa Keraton Pajang tidak hanya memiliki perhatian terhadap kehidupan politik dan pemerintahan, tetapi juga menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, pendidikan, moralitas, dan spiritualitas.
Di dalamnya terdapat ajaran mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta, pentingnya menggunakan akal dan ilmu pengetahuan, serta tuntunan bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanahnya.
Sejarah dan Keberadaan Serat Nitisruti
Serat Nitisruti disebut sebagai salah satu naskah peninggalan Keraton Pajang yang berhasil bertahan dari berbagai pergolakan politik dan perubahan kekuasaan pada masa berikutnya.
Naskah tersebut diyakini telah melewati berbagai ancaman kerusakan, penghancuran, dan penyingkiran terhadap warisan intelektual dari masa Pajang. Saat ini, naskah Serat Nitisruti disebut tersimpan dan terlindungi di British Library, London.
Kelestarian naskah ini menjadi bukti bahwa tradisi intelektual Keraton Pajang pernah berkembang dengan kuat. Serat Nitisruti juga memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa tersebut telah mengenal pemikiran mengenai hukum, pendidikan, etika sosial, dan kepemimpinan.
Meskipun masa pemerintahan Keraton Pajang relatif singkat, warisan pemikirannya tetap memiliki nilai penting untuk dipelajari hingga sekarang.
Arti dan Makna Serat Nitisruti
Secara etimologis, istilah Nitisruti berasal dari dua kata, yaitu:
- Niti, yang berarti aturan, tata laku, pedoman, atau tuntunan.
- Sruti, yang berarti suci, wahyu, atau sesuatu yang didengar sebagai ajaran kebenaran.
Berdasarkan pengertian tersebut, Serat Nitisruti dapat dimaknai sebagai aturan suci atau pedoman hidup yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
Naskah ini berisi konsep dasar mengenai hukum, moralitas, kehidupan sosial, serta tata laku bagi rakyat dan bangsawan di lingkungan Keraton Pajang.
Ajaran yang terdapat di dalam Serat Nitisruti tidak hanya berkaitan dengan tata pemerintahan. Naskah tersebut juga membahas pembentukan karakter manusia agar mampu menjalankan kehidupan berdasarkan kebenaran, keadilan, ilmu pengetahuan, dan kasih sayang.
Pokok-Pokok Ajaran Serat Nitisruti
Secara umum, terdapat beberapa pokok ajaran penting dalam Serat Nitisruti.
1. Menegakkan Tauhid kepada Sang Pencipta
Serat Nitisruti mengajarkan pentingnya mengesakan Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Manusia dianjurkan untuk mengikuti ajaran para nabi dan rasul serta menyadari bahwa seluruh kekuatan alam berasal dari Tuhan. Matahari, bulan, bintang, angin, bumi, air, api, dan seluruh unsur alam hanyalah perantara yang menjalankan ketetapan-Nya.
Oleh karena itu, rasa syukur manusia tidak berhenti pada benda-benda alam, melainkan ditujukan kepada Sang Pencipta yang menghadirkan manfaat melalui alam tersebut.
2. Mengutamakan Pendidikan Berbasis Nalar
Serat Nitisruti menekankan pentingnya pendidikan yang berlandaskan nalar, logika, dan ilmu pengetahuan.
Manusia tidak seharusnya menerima suatu informasi hanya karena disampaikan dalam bentuk cerita, mitos, atau dongeng. Setiap pengetahuan perlu dipertimbangkan secara rasional dan diuji berdasarkan kebenaran.
Pandangan ini menunjukkan bahwa tradisi Keraton Pajang memiliki penghargaan yang tinggi terhadap akal atau mantiq.
3. Menumbuhkan Tepa Selira dan Keadilan
Ajaran berikutnya adalah pentingnya menumbuhkan tepa selira, yaitu sikap tenggang rasa dan kemampuan menempatkan diri dalam keadaan orang lain.
Tepa selira menjadi dasar bagi terciptanya hubungan sosial yang adil dan harmonis. Keadilan tidak hanya berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama, tetapi juga menempatkan segala sesuatu secara seimbang sesuai kebutuhan, tanggung jawab, dan kemanfaatannya.
4. Menjalankan Kepemimpinan sebagai Pelayanan
Dalam Serat Nitisruti, kepemimpinan bukanlah sarana untuk memperoleh kehormatan, fasilitas, atau keuntungan pribadi.
Pemimpin merupakan manusia yang menerima amanah untuk melayani, melindungi, mengatur, dan menyejahterakan masyarakat. Amanah tersebut dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian, seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
Serat Nitisruti dan Tradisi Rasional Keraton Pajang
Keraton Pajang dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam di Jawa yang menghargai penggunaan akal, ilmu pengetahuan, dan rasionalitas.
Tradisi tersebut terlihat dalam ajaran Serat Nitisruti yang mendorong manusia untuk mengambil keputusan berdasarkan ilmu, bukan semata-mata prasangka, emosi, mitos, atau tekanan kepentingan.
Dalam perkembangan sejarah berikutnya, dimensi rasional dari tradisi Pajang dinilai semakin jarang dibicarakan. Penulisan sejarah tradisional lebih banyak menggunakan babad yang memadukan catatan sejarah dengan simbol, legenda, dan mitologi.
Karena itu, Serat Nitisruti penting dikaji untuk melihat bahwa kebudayaan Jawa juga memiliki tradisi pemikiran yang mengutamakan nalar, etika, dan pengetahuan ilmiah.
Konsep Astabrata dalam Serat Nitisruti
Salah satu ajaran utama dalam Serat Nitisruti adalah Astabrata, yaitu delapan jalan atau prinsip kepemimpinan.
Istilah Astabrata berasal dari kata asta, yang berarti delapan, dan brata, yang berarti laku, jalan hidup, prinsip, atau pengendalian diri.
Delapan prinsip tersebut diambil dari sifat-sifat alam, yaitu:
- Matahari
- Bulan
- Bintang
- Angin
- Mendung atau awan
- Bumi
- Api
- Air atau samudra
Alam dijadikan sebagai simbol karena setiap unsur menjalankan fungsi secara teratur, seimbang, dan konsisten. Seorang pemimpin diharapkan meneladani keteraturan tersebut dalam menjalankan amanahnya.
Delapan Ajaran Kepemimpinan Astabrata
1. Ambeging Surya: Pemimpin Harus Adil seperti Matahari
Ambeging Surya berarti menempuh jalan matahari.
Matahari menjadi simbol keadilan, kekuatan, dan sumber energi. Sinar matahari diberikan kepada seluruh makhluk tanpa membedakan latar belakang, kedudukan, maupun sifatnya.
Matahari tidak hanya memberikan cahaya, tetapi juga menyediakan energi yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung.
Seorang pemimpin harus mampu memberikan pelayanan secara adil tanpa pilih kasih. Namun, keadilan tidak selalu berarti membagikan sesuatu dalam jumlah yang sama. Keadilan berarti menciptakan keseimbangan dengan mempertimbangkan kebutuhan, hak, kewajiban, dan keadaan setiap orang.
Seperti matahari yang terus bersinar tanpa menuntut balasan, pelayanan seorang pemimpin seharusnya tidak bergantung pada pujian atau dukungan rakyat.
Pemimpin menjalankan tanggung jawab karena amanah, bukan karena ingin memperoleh penghormatan atau keuntungan pribadi.
Krisis kepemimpinan dapat muncul ketika jabatan hanya dipandang sebagai kursi kekuasaan yang menawarkan fasilitas dan berbagai hak istimewa. Kepemimpinan kemudian berubah menjadi transaksi politik untuk mendapatkan keuntungan.
Astabrata mengingatkan bahwa jabatan bukanlah hadiah, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Sang Pencipta.
Seorang pemimpin harus mengayomi masyarakat seperti seekor unggas yang merendahkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya. Ia harus bersedia melayani, melindungi, dan berkorban demi kesejahteraan rakyat.
2. Ambeging Rembulan: Pemimpin Harus Memberikan Pencerahan
Ambeging Rembulan berarti menempuh jalan bulan.
Bulan menjadi simbol cahaya yang hadir di tengah kegelapan. Oleh karena itu, seorang pemimpin memiliki tugas untuk menerangi, mencerahkan, dan mencerdaskan masyarakat.
Manusia dapat melihat bukan hanya karena memiliki mata dan terdapat objek yang dilihat. Penglihatan juga membutuhkan cahaya.
Demikian pula masyarakat membutuhkan pengetahuan agar mampu memahami masalah dan menentukan arah kehidupan.
Bulan memantulkan cahaya matahari. Hal tersebut menjadi simbol bahwa seorang pemimpin harus memantulkan nilai-nilai kebenaran dan ilmu yang berasal dari Sang Pencipta.
Ketika menghadapi persoalan yang belum dikuasainya, pemimpin tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan dugaan, emosi, tekanan kelompok, atau kepentingan sesaat.
Setiap kebijakan harus didasarkan pada data, pengetahuan, pertimbangan yang matang, serta prinsip keadilan.
Keputusan pemimpin dapat memengaruhi kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, pantangan utama seorang pemimpin adalah menetapkan kebijakan tanpa dasar ilmu.
3. Ambeging Lintang: Pemimpin Harus Menjadi Teladan
Ambeging Lintang berarti menempuh jalan bintang.
Bintang merupakan simbol petunjuk dan pedoman. Sebelum teknologi navigasi berkembang, para pelaut menggunakan rasi bintang untuk menentukan arah perjalanan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasi bintang dipahami sebagai sekelompok bintang yang tampak membentuk konfigurasi tertentu dan dapat digunakan sebagai penunjuk arah.
Seperti bintang, seorang pemimpin harus mampu menjadi petunjuk bagi masyarakat. Ia tidak cukup hanya memberikan perintah, tetapi harus memperlihatkan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari.
Dalam bahasa Jawa, keteladanan dikenal dengan istilah tuladha. Pemimpin merupakan manusia yang seharusnya dapat dijadikan contoh dalam mewujudkan visi bersama.
Masyarakat akan lebih mudah mengikuti nilai kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, dan tanggung jawab apabila pemimpinnya lebih dahulu menjalankan nilai-nilai tersebut.
Pemimpin yang kehilangan keteladanan akan kehilangan kepercayaan, meskipun memiliki jabatan dan kekuasaan yang besar.
4. Ambeging Angin: Pemimpin Harus Berpihak pada Kebenaran
Ambeging Angin berarti menempuh jalan angin.
Angin merupakan simbol arah, gerakan, keberpihakan, dan kekuatan yang membawa perubahan.
Pada masa lalu, pelaut menggunakan arah angin untuk menggerakkan kapal. Petani juga mempelajari musim dan pergerakan angin melalui pranata mangsa untuk menentukan waktu bercocok tanam.
Angin membawa awan yang kemudian menurunkan hujan. Air hujan membuat tanah yang kering kembali hidup dan menghasilkan tanaman.
Seperti angin, seorang pemimpin harus memiliki arah yang jelas. Keberpihakannya harus ditujukan kepada keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemimpin tidak boleh mudah berubah arah hanya karena tekanan kepentingan politik atau keuntungan pribadi.
Tugas seorang negarawan bukan hanya menjelaskan kebutuhan masyarakat saat ini. Ia juga harus mampu melihat kebutuhan masa depan sebelum masyarakat menyadarinya.
Visi tersebut harus diikuti dengan kemampuan menghimpun energi bangsa agar dapat bergerak maju secara bersama-sama.
Pemimpin tidak boleh berhenti pada pidato dan janji. Ia harus bekerja keras menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi rakyat.
Seperti angin yang terus bergerak melewati berbagai rintangan, seorang pemimpin harus gigih, ulet, dan tidak mudah menyerah.
5. Ambeging Mendung: Pemimpin Harus Memiliki Ilmu dan Wibawa
Ambeging Mendung berarti menempuh jalan awan atau mendung.
Mendung membawa air yang kemudian turun menjadi hujan. Dalam filosofi Astabrata, air hujan menjadi simbol ilmu dan kebenaran yang memberikan kehidupan.
Dengan demikian, mendung dapat dimaknai sebagai khazanah ilmu.
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas. Ilmu tersebut tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Perkataan seorang pemimpin harus memiliki bobot karena lahir dari pengetahuan, pengalaman, dan pertimbangan yang matang. Ucapannya tidak seharusnya dipengaruhi oleh prasangka, dorongan hawa nafsu, maupun kepentingan sesaat.
Mendung juga menggambarkan kewibawaan. Namun, kewibawaan berbeda dengan ketakutan.
Pemimpin yang berwibawa akan dihormati karena integritas, pengetahuan, dan keteguhannya. Sebaliknya, pemimpin yang mengandalkan ancaman hanya akan menciptakan ketakutan.
Seperti mendung yang akhirnya menurunkan hujan dan menghidupkan tanah kering, kehadiran seorang pemimpin harus membawa harapan, perubahan, dan produktivitas.
6. Ambeging Bumi: Pemimpin Harus Menjadi Ruang Tumbuh
Ambeging Bumi berarti menempuh jalan bumi.
Bumi menjadi tempat hidup bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai makhluk lainnya. Di atas bumi, seluruh makhluk memperoleh ruang untuk tumbuh, mencari rezeki, dan menjalankan perannya.
Seorang pemimpin harus mampu menjadi ekosistem yang memungkinkan seluruh potensi masyarakat berkembang.
Kebijakan yang dibuat harus menciptakan ruang bagi pendidikan, pekerjaan, kreativitas, usaha, kebudayaan, dan kehidupan sosial yang sehat.
Ketika tanah kering, benih berada dalam keadaan dorman atau tidak aktif. Setelah hujan turun, benih tersebut tumbuh menjadi tanaman yang subur.
Begitu pula dengan masyarakat. Banyak potensi tidak berkembang bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena tidak memperoleh kesempatan dan lingkungan yang mendukung.
Pemimpin bertugas menciptakan kondisi agar potensi tersebut dapat tumbuh.
Bumi juga menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan. Ia menopang gunung, hutan, sungai, lembah, kota, serta seluruh kehidupan di atasnya.
Seorang pemimpin harus memiliki keteguhan untuk menopang masyarakat dan mengelola berbagai fungsi kehidupan secara seimbang.
Keberhasilan pemimpin tidak diukur dari banyaknya fasilitas yang diterima. Keberhasilannya dinilai dari prioritas, kebijakan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
7. Ambeging Geni: Pemimpin Harus Mampu Mengendalikan Diri
Ambeging Geni berarti menempuh jalan api.
Api menjadi simbol kekuatan, keberanian, ketegasan, sekaligus hawa nafsu yang harus dikendalikan.
Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosional agar mampu mengendalikan keinginan, kemarahan, kebencian, kecemburuan, dan kepentingan subjektif.
Nafsu merupakan bagian dari kehidupan manusia. Nafsu tidak dapat sepenuhnya dihilangkan karena menjadi salah satu sumber daya hidup. Manusia membutuhkan keinginan untuk makan, bekerja, belajar, dan berkembang.
Permasalahannya bukan terletak pada keberadaan nafsu, melainkan pada kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Mengendalikan nafsu dapat diibaratkan seperti seorang penunggang yang mengendalikan kuda. Ketika penunggang mampu memegang kendali, kuda dapat diarahkan menuju tujuan yang benar.
Sebaliknya, apabila kuda mengambil alih kendali, penunggang dapat dibawa menuju bahaya.
Hambatan terbesar dalam menegakkan keadilan sering kali berasal dari kepentingan pribadi, rasa cinta dan benci, amarah, keserakahan, serta dorongan untuk mempertahankan kekuasaan.
Sistem pemerintahan yang baik tetap dapat disalahgunakan apabila dijalankan oleh manusia yang tidak mampu mengendalikan dirinya.
Karena itu, kualitas moral dan pengendalian diri menjadi bagian penting dalam kepemimpinan.
8. Ambeging Banyu atau Samudra: Pemimpin Harus Berlapang Dada
Ambeging Banyu berarti menempuh jalan air atau samudra.
Laut menjadi muara bagi berbagai aliran sungai. Ia menerima air dari banyak tempat tanpa kehilangan keluasan dan kedalamannya.
Samudra menjadi simbol kelapangan dada, pengalaman, kebijaksanaan, dan kemampuan menampung berbagai persoalan.
Seorang pemimpin harus siap menerima kritik, aspirasi, perbedaan pendapat, risiko, dan dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Ia tidak boleh hanya bersedia mendengarkan kelompok yang mendukungnya. Pemimpin harus mampu menjadi tempat bertemunya berbagai kepentingan untuk kemudian diarahkan menuju solusi yang adil.
Ungkapan “banyak makan garam” menggambarkan seseorang yang memiliki banyak pengalaman. Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan pengetahuan dalam bentuk teori, tetapi juga pengalaman nyata atau laku.
Ilmu memberikan wawasan, sedangkan pengalaman melahirkan kebijaksanaan dalam menerapkan aturan.
Pemimpin seperti garam yang memberikan rasa dalam kehidupan bersama. Pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaannya menjadi pedoman bagi masyarakat.
Seperti laut yang menerima seluruh aliran sungai, seorang pemimpin harus mampu momong, yaitu mengasuh, membimbing, menampung, dan membantu rakyat menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan.

Relevansi Astabrata bagi Kepemimpinan Masa Kini
Ajaran Astabrata tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern.
Kemajuan teknologi dan perubahan sistem politik tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pemimpin yang adil, berilmu, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan.
Seorang pemimpin masa kini tetap membutuhkan sifat matahari untuk memberikan energi, bulan untuk memberikan pencerahan, bintang untuk menjadi teladan, dan angin untuk menentukan arah.
Pemimpin juga membutuhkan sifat mendung agar memiliki ilmu, bumi agar mampu menciptakan ruang tumbuh, api untuk mengendalikan diri, serta samudra untuk menampung berbagai perbedaan.
Astabrata mengajarkan bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh kekuasaan. Kepemimpinan ditentukan oleh cara menggunakan kekuasaan tersebut untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Kepemimpinan Bukan Kekuasaan, tetapi Amanah
Salah satu pesan terpenting dalam Serat Nitisruti adalah bahwa kepemimpinan merupakan amanah.
Kekuasaan tidak seharusnya diperlakukan sebagai milik pribadi. Kekuasaan hanyalah sarana untuk melayani manusia dan menjaga keseimbangan kehidupan.
Pemimpin bukanlah orang yang harus selalu dilayani. Ia justru menjadi pihak yang memiliki tanggung jawab paling besar untuk memberikan pelayanan.
Kebijakan pemimpin harus melindungi kepentingan umum, bukan mengorbankan hak masyarakat demi kenyamanan pribadi.
Dalam ajaran Astabrata, kemuliaan seorang pemimpin tidak terletak pada kendaraan, pengawalan, fasilitas, atau penghormatan yang diterima. Kemuliaannya terlihat dari kesediaan untuk mendengarkan, melindungi, mendidik, dan menyejahterakan rakyat.
Nilai-Nilai Serat Nitisruti untuk Kehidupan Sehari-hari
Ajaran Serat Nitisruti tidak hanya berlaku bagi kepala negara atau pejabat pemerintahan.
Prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan oleh siapa pun yang memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, seperti pemimpin organisasi, kepala desa, guru, orang tua, pengusaha, tokoh masyarakat, dan pemimpin komunitas.
Nilai-nilai utama yang dapat diterapkan antara lain:
- Bersikap adil tanpa membedakan latar belakang seseorang.
- Mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan data.
- Menjadi contoh sebelum memberikan perintah.
- Berpihak kepada kebenaran dan kepentingan bersama.
- Terus belajar dan memperluas wawasan.
- Menciptakan ruang agar orang lain dapat berkembang.
- Mengendalikan emosi dan kepentingan pribadi.
- Bersedia mendengarkan kritik dan perbedaan pendapat.
- Menganggap jabatan sebagai bentuk pelayanan.
- Menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Kesimpulan
Serat Nitisruti merupakan warisan intelektual Keraton Pajang yang memuat ajaran penting tentang tauhid, pendidikan, nalar, keadilan, dan kepemimpinan.
Naskah karya Pangeran Karanggayam ini memperlihatkan bahwa tradisi Jawa memiliki pemikiran yang mendalam mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, masyarakat, dan alam semesta.
Salah satu ajaran paling penting dalam Serat Nitisruti adalah Astabrata, yaitu delapan prinsip kepemimpinan yang disimbolkan melalui matahari, bulan, bintang, angin, mendung, bumi, api, dan samudra.
Delapan prinsip tersebut mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus adil, mencerahkan, menjadi teladan, memiliki arah, berilmu, menciptakan ruang tumbuh, mampu mengendalikan diri, dan berlapang dada.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah jalan untuk memperoleh kemewahan dan kekuasaan. Kepemimpinan merupakan amanah untuk melayani, melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan masyarakat sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Serat Nitisruti
Apa yang dimaksud dengan Serat Nitisruti?
Serat Nitisruti adalah naskah sastra Jawa yang berisi tuntunan moral, spiritual, pendidikan, hukum, dan kepemimpinan. Naskah ini dikaitkan dengan tradisi intelektual Keraton Pajang.
Siapa penulis Serat Nitisruti?
Serat Nitisruti dikenal sebagai karya Pangeran Karanggayam, seorang pujangga dari lingkungan Keraton Pajang.
Kapan Serat Nitisruti ditulis?
Naskah tersebut disebut ditulis pada tahun 999 Hijriah atau sekitar 1591 Masehi.
Apa arti kata Nitisruti?
Nitisruti berasal dari kata niti, yang berarti aturan atau tata laku, dan sruti, yang berarti suci atau wahyu. Nitisruti dapat dimaknai sebagai aturan suci atau pedoman hidup berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.
Apa itu Astabrata?
Astabrata adalah delapan prinsip atau jalan kepemimpinan yang disimbolkan melalui sifat matahari, bulan, bintang, angin, mendung, bumi, api, dan air atau samudra.
Apa saja delapan ajaran Astabrata?
Delapan ajaran Astabrata terdiri atas Ambeging Surya, Ambeging Rembulan, Ambeging Lintang, Ambeging Angin, Ambeging Mendung, Ambeging Bumi, Ambeging Geni, dan Ambeging Banyu atau Samudra.
Mengapa ajaran Astabrata masih relevan?
Astabrata tetap relevan karena mengajarkan nilai-nilai dasar kepemimpinan, seperti keadilan, keteladanan, ilmu pengetahuan, pengendalian diri, keberpihakan kepada kebenaran, dan pelayanan kepada masyarakat.
