Nilai Ajaran

Serat Nitisruti merupakan salah satu karya sastra Jawa klasik yang sarat dengan nilai-nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan tuntunan hidup. Naskah ini ditulis oleh Pangeran Karanggayam Pajang pada tahun 1612 dan hingga kini masih menjadi sumber inspirasi dalam membangun karakter seorang pemimpin maupun kehidupan bermasyarakat.

Lebih dari sekadar kitab tata krama, Serat Nitisruti memuat petuah mendalam tentang bagaimana seorang pemimpin harus mampu menciptakan ketenteraman, menjaga persatuan, serta mengendalikan hawa nafsunya demi kemaslahatan rakyat.

Ketenteraman Berawal dari Hati Seorang Pemimpin

Dalam ajarannya, Pangeran Karanggayam menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau kekuatan militer, melainkan oleh kemampuan pemimpinnya menciptakan ketenteraman hati rakyat.

Pemimpin yang dikuasai sifat serakah, angkara murka, dan mementingkan diri sendiri diibaratkan seperti pintu yang telah dimakan rayap. Dari luar tampak kokoh, namun sesungguhnya rapuh dan mudah runtuh. Oleh sebab itu, pengendalian diri menjadi syarat utama agar seorang pemimpin tetap dipercaya oleh rakyatnya.

Menjadi Teladan Melalui Budi Pekerti

Nama asli Pangeran Karanggayam adalah Pangeran Tumenggung Sudjonopuro, seorang tokoh yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pujangga besar Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Dalam Serat Nitisruti dijelaskan bahwa pemimpin sejati adalah pribadi yang memiliki hati seluas samudra, kaya akan kasih sayang, mudah memaafkan, serta mampu menghadirkan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.

Seorang pemimpin yang demikian akan menjadi sumber tata krama, dihormati bukan karena kekuasaannya, tetapi karena keluhuran budinya.

Bijaksana dalam Berbicara dan Menjaga Amanah

Ajaran Serat Nitisruti juga mengingatkan agar seorang pemimpin berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan negara atau masyarakat.

Sebelum mengambil keputusan ataupun menyampaikan informasi kepada publik, seorang pemimpin harus mengolah pikiran, mempertimbangkan segala akibatnya, serta memiliki ketajaman rasa dalam membedakan mana yang patut disampaikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi amanah.

Sikap waspada, bijaksana, dan mampu menjaga rahasia merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang berintegritas.

Olah Batin Sebagai Jalan Menuju Kebijaksanaan

Dalam tradisi Jawa, kebijaksanaan lahir melalui proses olah rasa dan pengendalian diri.

Pangeran Karanggayam menganjurkan agar seseorang mengurangi tidur pada malam hari untuk memperbanyak semedi, memperdalam perenungan, serta selalu mengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.

Dengan kesadaran tersebut, seorang pemimpin akan terhindar dari kesombongan dan lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi.

Kepemimpinan Harus Adaptif terhadap Perkembangan Zaman

Selain memiliki kekuatan spiritual, seorang pemimpin juga dituntut menguasai berbagai sarana dan perangkat yang diperlukan dalam menjalankan pemerintahan.

Apabila pada masa lampau yang dimaksud adalah kemampuan menggunakan senjata dan strategi pertahanan, maka dalam konteks masa kini dapat dimaknai sebagai kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan inovasi untuk kemajuan bangsa.

Namun demikian, kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Menjaga Kerukunan Adalah Fondasi Kekuatan

Salah satu pesan penting dalam Serat Nitisruti adalah pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.

Pemimpin hendaknya mampu meredam konflik, menghilangkan rasa iri, dengki, dan sakit hati, serta menciptakan suasana rukun di antara para pembantunya maupun masyarakat luas.

Persatuan dan kerukunan merupakan pondasi utama bagi terciptanya keamanan, ketenteraman, dan kemajuan sebuah negeri.

Rendah Hati dan Santun dalam Bertutur

Pangeran Karanggayam juga mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan maupun kedudukannya, melainkan dari kerendahan hati dan kesantunan perilakunya.

Orang yang mampu berbicara dengan bijaksana, menjaga sikap, serta menghormati sesama akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat dibanding mereka yang gemar berbicara tanpa pertimbangan.

Karena itu, seorang pemimpin hendaknya selalu menjadi teladan dalam tutur kata maupun tindakan.

Pupuh Pucung: Mengajarkan Kasih Sayang kepada Sesama

Salah satu bagian paling terkenal dalam Serat Nitisruti adalah Pupuh Pucung, yang mengajarkan pentingnya cinta kasih kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam pupuh tersebut dijelaskan bahwa manusia yang luhur adalah mereka yang mampu membahagiakan hati orang lain, mengasihi kaum lanjut usia, menyantuni anak yatim dan kaum miskin, memaafkan kesalahan sesama, serta menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kebesaran seseorang bukan terletak pada kekuasaan yang dimilikinya, melainkan pada kemampuannya menghadirkan manfaat dan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya.

Warisan Nilai yang Tetap Relevan

Meski telah ditulis lebih dari empat abad yang lalu, ajaran Serat Nitisruti tetap memiliki relevansi bagi kehidupan modern.

Nilai-nilai seperti pengendalian diri, kepemimpinan yang berintegritas, kebijaksanaan dalam bertindak, kepedulian terhadap sesama, serta semangat menjaga persatuan merupakan prinsip-prinsip yang selalu dibutuhkan dalam setiap zaman.

Warisan pemikiran Pangeran Karanggayam menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya mampu memerintah, tetapi juga mampu menjadi teladan yang menenangkan hati rakyat, menjaga kehormatan budaya, dan mengutamakan kemanusiaan dalam setiap langkahnya.

Rahayu Sagung Dumadi.

What's your reaction?
4Like3Love2Happy4Sad9Dislike

Leave a comment

Butuh Bantuan? Chat dengan kami
get our latest news

Subscribe Our
Newsletter